Senin, 13 Oktober 2014

Terpuruk Karena Konflik di Perusahaan Keluarga


Dari namanya 'perusahaan keluarga' sudah nampak sumber konfliknya. Perusahaan adalah sebuah organisasi yang berbasis nilai-nilai bisnis tentu lebih rasional dan logis. Sementara organisasi bernama keluarga berlandaskan nilai-nilai keluarga yang bernuansa emosional. Dalam derajat tertentu penggabungan dua nilai ini menghasilkan power yang sangat besar, karena tujuan dan langkah rasional disiram oleh ikatan emosional, sehingga menghasilkan komitmen dan semangat yang tinggi. Terbukti bahwa perusahaan keluarga menjadi pioneer dalam bisnis global dan menjadi kontributor yang handal dalam perekonomian di berbagai negara.

Konflik dalam perusahaan keluarga dapat dirumuskan sebagai suatu situasi di tempat kerja di mana dua atau lebih orang atau kelompok orang dalam keluarga mempunyai ide, pandangan, argumentasi, persepsi, dan pendapat yang berlawanan atau kontradiktif sehingga mereka saling menyalahkan yang berakibat pada perusahaan.

Dari pengertian ini, konflik dalam perusahaan keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu konflik antara kepentingan bisnis dan keluarga, konflik antaranggota keluarga, dan konflik antara keluarga dan karyawan. Konflik antara kepentingan bisnis dan kepentingan keluarga disebabkan oleh adanya perbedaan antara nilai keluarga dan nilai bisnis. Dalam keluarga, hubungan lebih didasarkan pada emosi, sedangkan dalam bisnis hubungan lebih rasional dan logis. Dalam bisnis orang yang memegang suatu jabatan adalah orang yang paling kompeten, sementara dalam keluarga pertalian darah lebih banyak berbicara. Posisi puncak sedapat mungkin diisi orang yang pertalian darahnya lebih dekat kepada pemilik/pendiri. Sementara konflik antaranggota keluarga dapat dirangkum dalam empat hal, yaitu konflik tujuan, gaya hidup dan kerja, konflik menyangkut kendali perusahaan, dan leaving the nest (meninggalkan rumah). Serangkaian tujuan untuk bisnis, keluarga terdekat, dan diri sendiri bisa berbeda dan menyebabkan konflik. Gaya hidup dan kerja berubah sepanjang waktu dan berbeda antara satu orang dengan lainnya, sehingga berpotensi menimbulkan konflik dalam keluarga.



Keengganan untuk mengalihkan kendali perusahaan ke generasi penerus dari pendiri/pemilik mengakibatkan konflik dalam keluarga dan perusahaan. Putra-putri yang menjadi dewasa merasa selalu diawasi (under the family microscope) karena merekalah nanti yang diharapkan meneruskan perusahaan. Salah satu cara mengatasi konflik antaranggota keluarga ini adalah dilakukannya pengaturan peran setiap anggota keluarga yang bekerja di perusahaan. Di samping itu, diperlukan pula kejujuran dari anggota keluarga dalam mengelola bisnis, termasuk mengenai masalah yang timbul, harapan, dan rencana untuk masa mendatang.



Konflik nilai antara keluarga dan karyawan biasanya terletak pada profesionalitas dan kepercayaan. Anggota keluarga selalu menuntut komitmen yang tinggi dari profesional dan karyawan nonkeluarga. Namun bila tidak diimbangi dengan sikap yang sama dari anggota keluarga, jelas hal ini akan menimbulkan konflik. Salah satu pemicu konflik adalah timbulnya miskomunikasi atau justru komunikasi yang over dosis. Carlock dan Ward menjelaskan, bahwa banyak keluarga menghindari untuk berkomunikasi dengan jujur tentang keadaan sebenarnya demi keutuhan atau harmoni dalam keluarga. Suksesi juga menjadi sumber konflik yang utama, dan boleh dikatakan yang paling rumit dan menjadi ancaman terbesar keberlangsungan hidup perusahaan keluarga. Sang pendiri sering dihadapkan pada dilema ketika harus memilih penggantinya. Selanjutnya, masalah antarpribadi dalam keluarga, distribusi sumber penghasilan dan kekayaaan, kepemimpinan, sistem dan struktur perusahan juga berpotensi menjadi sumber konflik.



Proses pembuatan keputusan dan tujuan yang tidak sesuai dalam sistem dan struktur perusahaan keluarga bisa menjadi sumber konflik. Bagi perusahaan yang sedang tumbuh, kunci utamanya adalah menanamkan sistem dan struktur yang baik supaya perusahaan makin berkembang dengan tetap memperhatikan perubahan. Apakah konflik yang timbul selalu harus diterjemahkan sebagai sesuatu yang destruktif Tidak. Konflik pun dapat bersifat konstruktif. Konflik yang konstruktif dapat meningkatkan pencapaian, berfungsi sebagai tanda peringatan, mendorong pengembangan sistem, melahirkan pandangan manajemen baru, serta mencegah timbulnya konflik yang lebih besar. Konflik bersifat destruktif tatkala merugikan bisnis dalam jangka panjang, menimbulkan biaya bagi organisasi, menimbulkan kelelahan mental dan fisik, menguras energi, dan menghilangkan sinergi dalam perusahaan.



Langkah terpenting adalah bagaimana meminimalkan terjadinya konflik dan menyelesaikannya bila konflik itu muncul. Jika konflik ganas mulai muncul dan menggerogoti perusahaan, tak ada jalan lain untuk menelan pil pahit, yang kadang disertai airmata. Mekanismenya ada yang bersifat sukarela (voluntary) dan tidak sukarela (involuntary). Penyelesaian konflik secara sukarela dilakukan melalui arbitration (menyampaikan perselisihan kepada konsultan) atau settlement agreement (pernyataan formal secara tertulis), business spin-offs (menyelesaikan konflik dengan cara membagi bisnis menjadi beberapa bagian), buy-out of dissenting shareholder (membeli saham pemilik yang lain), atau menjual bisnis ke pihak ketiga. Sedangkan penyelesaian konflik secara involuntary bisa dilakukan dengan penyelesaian di pengadilan (court-ordered solution) atau memaksa pemilik lain untuk menjual saham-sahamnya (buy-out). Sebuah pilihan yang harus dihindari!



Disarikan dari artikel karya A.B. Susanto di Harian Bisnis Indonesia 





SUMBER

Sabtu, 11 Oktober 2014

TUGAS PERTEMUAN 1

MANAJEMEN, KEPEMIMPINAN, DAN PERENCANAAN
MANAJEMEN
A.    Pengertian Manajemen (Definition of Management)
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang artinya seni melaksanakan dan mengatur. Menurut Mary Parker Follet,  manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Ricky W. Griffin : sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu :
1.      Manajemen sebagai suatu proses,
2.      Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
3.      Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)

Manajemen sebagai suatu proses, dikemukakan tiga buah definisi:
1.    Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
2.    Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama. Manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
3. Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pengetahuan. Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.
Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.
A.    Jenis-jenis manajemen
a)      Berdasarkan hirarki:
1.      Manajemen puncak
·         Bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan
·         Direktur-direktur, CEO
2.      Manajemen menengah
·         Melaksanakan tujuan, strategi dan kebijakan yang telah dilakukan manajemen puncak
·         Mengkoordinasikan dan mengarahkan aktivitas tingkat bawah dan karyawan
·         Manajer pemasaran, manajer produksi dll
3.      Manajemen tingkah bawah
·         Mengawasi karyawan secara langsung
·         Supervisor, pengawas dll

b)      Berdasarkan fungsi:
1.      Manajer umum
·         Mengawasi unit tertentu yang mempunyai beberapa tanggung jawab sekaligus
·         Manajer divisi
2.      Manajer fungsional
·         Bertanggung jawab terhadap satu aktivitas
·         Manajer pemasaran, manajer keuangan dll
Sedangkan psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.

KEPEMIMPINAN
A.    Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Kepemimpinan menurut para ahli:
·         Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
·         Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

B.     Teori kepempinan
8 teori kepemimpinan
1.      The ‘Great Man’ theory
            Thomas Carlyle (1888), Herbert Spencer (1896)
Kepemimpinan adalah kemampuan yang melekat—pemimpin besar dilahirkan, bukan dibentuk. Pemimpin besar muncul sebagai heroic, mitos, dan ditakdirkan karena diperlukan. Disebut ‘great man’ karena pada saat itu pemimpin dianggap kualitas laki-

2.      Trait theory
            Gordon Allport (1937), Hans Eysenck (1967)
Pemimpin terbentuk karena perilaku warisan karakteristik perilaku tertentu yang dimiliki seseorang. Tetapi, jika perlilaku tertentu adalah indicator kepemimpinan, mengapa banyak orang yang memiliki sifat kepemimpinan tetapi tidak menjadi pemimpin?
3.      Contingency theory
           Joan Woodward (1958), Fiedler, FE (1958)
Kepemimpinan dipengaruhi oleh variable-varible lingkungan yang menentukan gaya kepemimpinan. Tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik untuk semua situasi. Keberhasilan pemimpin tergantung pada sejumlah variable, termasuk gaya kepemimpinan, kualitas para pengikut, dan aspek lingkungan.
4.      Situational theory
            Hersey and Blanchard (1977)
Pemimpin harus memilih tindakan yang terbaik berdasarkan situasi yang sedang dihadapi. Gaya kepemimpinan berbeda-beda tergantung situasi berlainan. Misalnya di tengah cendekiawan gaya kepemompinan demokratis mungkin paling tepat diterapkan.
5.      Behavioral theory
            Skinner (1967), Bandura (1982)
Sesuai prinsip ‘behaviorism’ seorang pemimpin besar dapat dibentuk, tidak selalu karena dilahirkan atau dimitoskan. Kepemimpinan tergantung pada tindakan, bukan pada kualitas mental atau kondisi internal. Setiap orang dapat memiliki jiwa kepemimpinan melalui cara pembelajaran, observasi dan karena pengalaman.
6.      Participative theory
            Robert House (1996)
Gaya kepemimpinan yang ideal adalah mendorong partisipasi dan kontribusi anggota kelompok. Anggota kelompok merasa lebih memiliki dan berkomitmen pada proses pengambilan keputusan dan pencapian tujuan organisasi. Untuk memotivasi partisipasi, pemimpin harus terbuka pada masukan anggota kelompok.
7.      Transactional theory
             Max Weber, Bernard Bass (1981)
Teori transaksional, atau teori manajemen, berfokus pada peran pengawasan kinerja, organisasi dan kelompok karyawan. Teori ini mendasarkan pada system reward and punishmen—karyawan dihargai apabila sukses dan ditegur atau dihukum apabila melanggar aturan yang disepakati.
8.      Transformational theory
James Macgregor Burns (1978; Bernard Bass (1981)
Teori transformasional atau teori relationship, berfokus pada pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin memotivasi dan menginspirasi orang agar meilhat kepentingan tugas. Pemimpin memperhatikan potensi orang dan memiliki standar etika dan moralitas kepemimpinan yang tinggi.

PERENCANAAN
A.    Pengertian perencanaan
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan—tak akan dapat berjalan.
Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

B.     Manfaat perencanaan
Beberapa manfaat dari perencanaan adalah:
1.      Dipakai sebagai alat pengawasan daan pengendalian  kegiatan sehari-hari perusahaan. Perencanaan yang telah disusun dengan baik akan memudahkan para pelaksanaan untuk mengetahui apakah tindakan mereka menyimpang atau sesuai dengan rencana.
2.      Dengan adanya perencanaan yang disusun (tentunya sebelum suatu kegiatan dilakukan) dengan cermat dapatlah dipilih dan ditetapkan kegiatan-kegiatan mana yang diperlukan dan mana yang tidak.
3.      Dengan adanya rencana, segala kegiatan dapat dilakukan secara tertib dan teratur sesuai dengan tahap-tahap yang semestinya.

C.    Jenis-jenis perencanaan
Menurut Marwan Asri dan John Suprihanto (1986:33) bahwa perencanaan dapat dipecah menjadi beberapa macam:
1.      Menurut jangka waktunya
Menurut jangka waktunya, perencanaan dapat dikelompokkan menjadi:
a)      Perencanaan jangka panjang
b)      Perencanaan jangka pendek

2.      Menurut ruang lingkupnya
Menurut ruang lingkupnya, perencanaan dapat dibagi menjadi 3 macam:
a)      Perencanaan fisik
b)      Perencanaan fungsional
c)      Perencanaan menyeluruh


SUMBER


Cute Hello Kitty 13